Beberapa hari yang lalu, berhubung liburan di padang udah hampir selesai & notabene lagi ga’ ada kerjaan, akhirnya saya memutuskan untuk mencari angin segar alias jalan2 (alah…). Setelah menimbang beberapa tempat yang akan dikunjungi, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke gramedia (alhasil, maka petualangan di gramedia pun dimulai).
Sebenarnya, alasan saya memilih pergi ke gramedia cukup sederhana, pertama udah hampir satu tahun ga’ ke sana, dan yang kedua : hipotesa bahwa toko buku merupakan tempat favorit untuk para anggota jojoba (jomblo2 bahagia red, hehehe). Namun, ternyata di gramedia saya tetep aja ketemu dengan beberapa pasang wajah yang udah dikenal (mmm, ternyata memang tidak semua hipotesa itu benar ya?? ). Dalam hati saya berkata : arghh…., di mana toleransi untuk para jojoba ? tapi saya inget nasehat seorang teman : kita itu jomblo karena pilihan, belum ada aja yg beruntung dapetin kita, hehehe maksa bgt kan???)
Setelah muter2 ga’ jelas mulai dari bagian mainan anak2, alat tulis, olah raga, teknik, agama, sampai bagian kedokteran akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat favorit, area komik & novel tentunya…
Di tengah ancaman krisis ekonomi global yang bakal melanda dunia saat ini, saya memutuskan untuk membeli 2 novel yg cukup menarik (ga’ nyambung deh perasaan???). Novel pertama judulnya “Dilatasi memori”, ada 2 faktor utama buat saya untuk ngebeli novel ini. Faktor pertama, novel ini merupakan sekuel dari salah satu novel favorit saya waktu SMA dulu, judulnya diorama sepasang Al-banna (al-banna = pembangun; red). Novel ini bercerita tentang kisah dua orang arsitek dengan latar belakang yang jauh berbeda, tapi mereka sama2 mengagumi Hasan Al-banna. Diceritakan bagaimana mereka bertemu sampai akhirnya menikah dan membangun suatu biro konstruksi yang diberinama al-banna. Nah, di novel kedua ini isinya berkisar tentang konflik dalam rumah tangga, seperti karier, anak, dan masalah yang sangat fundamental dalam membangun suatu hubungan, yaitu kesetiaan… (wah, berat nih bahasannya, hehehe).
Faktor yang kedua, judulnya sendiri “Dilatasi Memori” (teknik bgt kan?). Awalnya sih, saya pikir dilatasi di sini maksudnya mengubah dimensi suatu benda dengan cara mengalikannya dengan suatu konstanta tertentu, makanya jadi penasaran maksudnya dilatasi memori di novel ini apa. Tapi, setelah baca novel ini, saya baru tau ternyata dilatasi di sini adalah istilah dalam teknik arsitektur/sipil, yang artinya pemisahan/pemotongan suatu konstruksi beton agar tidak terjadi keretakan. Menurut saya, esensi yg bisa dipetik dari novel ini: terkadang dalam suatu hubungan, kita membutuhkan waktu untuk sendiri karena pada saat kita sendiri itulah kita bisa lebih arif memaknai cinta dan menyadari betapa berhaganya pasangan kita, jadi kita bisa menghindari terjadinya “keretakan” dalam hubungan kita (disinilah maksud dilatasi memori itu ternyata). Biasanya kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu ketika kita sudah kehilangannya kan? mmm….
Novel kedua yang saya beli judulnya “When a man lost a woman”. Alasan saya beli novel ini, ya karena judulnya itu (saya bgt, hehehe). Tapi, berhubung masalah waktu karena udah mau balik kuliah, novel ini masih belum selesai dibaca (semoga di bandung kelar deh).
Ya udah, sekian dulu kisah petualangan di gramedianya (maaf ya kalau jelek, kan baru belajar nulis nih, hehehe)